﴿فَانْطَلَقَا حَتَّى إذَا أَتَيَا أَهْل قَرْيَة﴾ هِيَ أَنْطَاكِيَة ﴿اسْتَطْعَمَا أَهْلهَا﴾ طَلَبًا مِنْهُمْ الطَّعَام بِضِيَافَةٍ ﴿فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا﴾ ارْتِفَاعه مِائَة ذِرَاع ﴿يُرِيد أَنْ يَنْقَضّ﴾ أَيْ يَقْرُب أَنْ يَسْقُط لِمَيَلَانِهِ ﴿فَأَقَامَهُ﴾ الْخَضِر بِيَدِهِ ﴿قَالَ﴾ لَهُ مُوسَى ﴿لَوْ شِئْت لَاِتَّخَذْت﴾ وَفِي قِرَاءَة لَتَخِذْت ﴿عَلَيْهِ أَجْرًا﴾ جُعْلًا حَيْثُ لَمْ يُضَيِّفُونَا مع جاجتنا إلى الطعام
٧ -
Maka keduanya berjalan hingga apabila keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri [yaitu kota Antakya], keduanya meminta dijamu oleh penduduknya [meminta makanan dari mereka sebagai penghormatan tamu], tetapi mereka enggan menjamu keduanya. Kemudian keduanya mendapati di negeri itu dinding rumah [tingginya seratus hasta] yang hampir [yaitu hampir saja] roboh [karena miring], maka dia [Khidir] menegakkannya [dengan tangannya]. Musa berkata [kepadanya], "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil [dan menurut satu qiraat: 'latakhidzta'] upah untuk itu [yaitu imbalan, karena mereka tidak mau menjamu kita padahal kita membutuhkan makanan]."