Tafsir Al-Jalalayn
﴿فَتَبَسَّمَ﴾ سُلَيْمَان ابْتِدَاء ﴿ضَاحِكًا﴾ انْتِهَاء ﴿مِنْ قَوْلهَا﴾ وَقَدْ سَمِعَهُ مِنْ ثَلَاثَة أَمْيَال حَمَلَتْهُ إلَيْهِ الرِّيح فَحَبَسَ جُنْده حِين أَشْرَفَ عَلَى وَادِيهمْ حَتَّى دَخَلُوا بُيُوتهمْ وَكَانَ جُنْده رُكْبَانًا وَمُشَاة فِي هَذَا السَّيْر ﴿وَقَالَ رَبّ أَوْزِعْنِي﴾ أَلْهِمْنِي ﴿أَنْ أَشْكُر نِعْمَتك الَّتِي أَنْعَمْت﴾ بِهَا ﴿عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدِيّ وَأَنْ أَعْمَل صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِك فِي عِبَادك الصَّالِحِينَ﴾ الْأَنْبِيَاء وَالْأَوْلِيَاء ٢ -
Maka [Sulaiman] tersenyum [pada permulaannya] seraya tertawa [pada akhirnya] karena [mendengar] perkataan semut itu [dan beliau telah mendengarnya dari jarak tiga mil yang terbawa oleh angin kepadanya, lalu beliau menahan pasukannya ketika sampai di lembah semut hingga mereka masuk ke rumah-rumah mereka, dan pasukan beliau ada yang berkuda dan berjalan kaki dalam perjalanan tersebut]. Dan dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku ilham [bimbinglah aku] untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan [dengan nikmat itu] kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh [yakni para nabi dan para wali]."