Tafsir Al-Jalalayn
﴿لَا تُدْرِكهُ الْأَبْصَار﴾ أَيْ لَا تَرَاهُ وَهَذَا مَخْصُوص لِرُؤْيَةِ الْمُؤْمِنِينَ لَهُ فِي الْآخِرَة لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وُجُوه يَوْمئِذٍ نَاضِرَة إلَى رَبّهَا نَاظِرَة﴾ وَحَدِيث الشَّيْخَيْنِ إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَر لَيْلَة الْبَدْر وَقِيلَ الْمُرَاد لَا تُحِيط بِهِ ﴿وَهُوَ يُدْرِك الْأَبْصَار﴾ أَيْ يَرَاهَا وَلَا تَرَاهُ وَلَا يَجُوز فِي غَيْره أَنْ يُدْرِك الْبَصَر وَهُوَ لَا يُدْرِكهُ أَوْ يُحِيط بِهِ عِلْمًا ﴿وَهُوَ اللَّطِيف﴾ بِأَوْلِيَائِهِ ﴿الْخَبِير﴾ بِهِمْ ١٠ -
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata" [artinya mata tidak dapat melihat-Nya. Ayat ini dikhususkan, karena orang-orang mukmin dapat melihat-Nya di akhirat berdasarkan firman-Nya Ta'ala, "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Tuhannya" (QS. Al-Qiyamah: 22-23), dan hadis *Asy-Syaikhani* (Bukhari-Muslim): "Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama." Ada pula yang mengatakan bahwa maksudnya adalah mata tidak dapat meliput-Nya]. "sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu" [yakni Dia melihat mata penglihatan sedangkan mata tidak dapat melihat-Nya; dan tidak boleh bagi selain-Nya memiliki sifat melihat penglihatan padahal ia tidak dapat dilihat oleh penglihatan tersebut, atau makna *yudriku* adalah meliputinya dengan ilmu-Nya]. "Dan Dialah Yang Mahahalus" [terhadap kekasih-kekasih-Nya] "lagi Maha Mengetahui" [tentang keadaan mereka].