﴿وَقَالَ نِسْوَة فِي الْمَدِينَة﴾ مَدِينَة مِصْر ﴿امْرَأَة الْعَزِيز تُرَاوِد فَتَاهَا﴾ عَبْدهَا ﴿عَنْ نَفْسه قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا﴾ تَمْيِيز أَيْ دَخَلَ حُبّه شِغَاف قَلْبهَا أَيْ غِلَافه ﴿إنَّا لَنَرَاهَا فِي ضَلَال﴾ أَيْ فِي خَطَأ ﴿مُبِين﴾ بَيِّن بِحُبِّهَا إيَّاهُ
٣ -
Dan perempuan-perempuan di kota [Mesir] berkata, "Istri Al-Aziz merayu pelayannya [yakni hamba sahayanya] untuk menundukkan dirinya [kepadanya]. Sungguh cinta kepada pelayannya itu telah merasuk ke dalam jiwanya [kata 'hubban' sebagai tamyiz, artinya cintanya telah masuk ke dalam selaput hatinya, yakni pembungkus hatinya]. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan [yakni kekeliruan] yang nyata [yakni sangat jelas disebabkan cintanya kepadanya]." 3 -