Tafsir Al-Jalalayn
﴿فَقَالُوا أَبَشَرًا﴾ مَنْصُوب عَلَى الِاشْتِغَال ﴿مِنَّا وَاحِدًا﴾ صِفَتَانِ لبَشَرًا ﴿نَتَّبِعهُ﴾ مُفَسِّر لِلْفِعْلِ النَّاصِب لَهُ وَالِاسْتِفْهَام بِمَعْنَى النَّفْي الْمَعْنِيّ كَيْفَ نَتَّبِعهُ وَنَحْنُ جَمَاعَة كَثِيرَة وَهُوَ وَاحِد مِنَّا وَلَيْسَ بِمَلَكٍ أَيْ لَا نَتَّبِعهُ ﴿إنَّا إذًا﴾ إِنِ اتَّبَعْنَاهُ ﴿لَفِي ضَلَال﴾ ذَهَاب عَنْ الصَّوَاب ﴿وَسُعُر﴾ جُنُون ٢ -
Maka mereka berkata, "Apakah seorang manusia [kata *basharan* berkedudukan manshub karena *isytighal*] di antara kita yang menyendiri [keduanya merupakan sifat bagi *basharan*] yang kita harus mengikutinya? [Kata *nattabi'uhu* menjadi penjelas bagi kata kerja yang menashabkannya, dan kata tanya di sini bermakna penafian yang berarti: 'Bagaimana mungkin kita mengikutinya sedangkan kita adalah kelompok yang banyak dan dia hanyalah seorang diri di antara kita serta bukan seorang malaikat?', yakni kita tidak akan mengikutinya]. Sesungguhnya kita kalau demikian [yakni jika kita mengikutinya] benar-benar berada dalam kesesatan [yakni menyimpang dari kebenaran] dan kegilaan [yakni kebingungan]."