Tafsir Al-Jalalayn
﴿فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا﴾ مِنْهُمْ ﴿قَوْلًا غَيْر الَّذِي قِيلَ لَهُمْ﴾ فَقَالُوا حَبَّة فِي شَعْرَة وَدَخَلُوا يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاههمْ ﴿فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا﴾ فِيهِ وَضْع الظَّاهِر مَوْضِع الْمُضْمَر مُبَالَغَة فِي تَقْبِيح شَأْنهمْ ﴿رِجْزًا ?﴾ عَذَابًا ? طَاعُونًا ? ﴿مِنْ السَّمَاء بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ﴾ بِسَبَبِ فِسْقهمْ أَيْ خُرُوجهمْ عَنْ الطَّاعَة فَهَلَكَ مِنْهُمْ فِي سَاعَة سَبْعُونَ ألفا ? أو أقل ٦ - ﴿و﴾ اذكر ﴿إذْ اسْتَسْقَى مُوسَى﴾ أَيْ طَلَبَ السُّقْيَا ﴿لِقَوْمِهِ﴾ وَقَدْ عَطِشُوا فِي التِّيه ﴿فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاك الْحَجَر﴾ وَهُوَ الَّذِي فَرَّ بِثَوْبِهِ خَفِيف مُرَبَّع كَرَأْسِ الرَّجُل رُخَام أَوْ كَذَّان فَضَرَبَهُ ﴿فَانْفَجَرَتْ﴾ انْشَقَّتْ وَسَالَتْ ﴿مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَة عَيْنًا﴾ بِعَدَدِ الْأَسْبَاط ﴿قَدْ عَلِمَ كُلّ أُنَاس﴾ سَبْط مِنْهُمْ ﴿مَشْرَبهمْ﴾ مَوْضِع شُرْبهمْ فَلَا يَشْرَكهُمْ فِيهِ غَيْرهمْ وَقُلْنَا لَهُمْ ﴿كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْق اللَّه وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْض مُفْسِدِينَ﴾ حَال مُؤَكِّدَة لِعَامِلِهَا مِنْ عَثِيَ بِكَسْرِ الْمُثَلَّثَة أَفْسَدَ ٦ -
[Lalu orang-orang yang zalim] di antara mereka [mengganti perkataan itu dengan perkataan lain yang tidak dikatakan kepada mereka] lalu mereka mengatakan habbatun fī sya'ratin (biji di dalam bulu) dan mereka masuk sambil merangkak di atas pantat mereka. [Maka Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu] penyebutan isim zhahir di tempat isim dhamir ini bertujuan untuk sangat memburukkan keadaan mereka [siksaan] yakni azab berupa wabah penyakit [dari langit karena mereka berbuat fasik] disebabkan kefasikan mereka, yaitu keluar dari ketaatan. Maka binasalah di antara mereka sebanyak tujuh puluh ribu orang dalam waktu satu jam, atau kurang dari itu. Dan [ingatlah] ketika Musa memohon air [yakni meminta siraman air] untuk kaumnya [ketika mereka kehausan di padang pasir Tiih,] lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" [Batu itu adalah batu yang pernah membawa lari pakaiannya, batu yang ringan, berbentuk persegi seukuran kepala manusia, berupa batu marmer atau batu kapur keras. Lalu Musa memukulnya,] maka memancarlah [yakni terbelah dan mengalirlah] darinya dua belas mata air [sesuai dengan jumlah suku-suku keturunan Yakub.] Sungguh, setiap suku telah mengetahui [yakni setiap kabilah dari mereka] tempat minumnya masing-masing [yaitu tempat minum mereka sehingga tidak ada suku lain yang menyertainya di tempat tersebut. Dan Kami katakan kepada mereka,] "Makan dan minumlah dari rezeki yang diberikan Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di bumi dengan berbuat kerusakan." [Kata "mufsidiin" berkedudukan sebagai hal yang menegaskan kata kerjanya, yang berasal dari kata 'atsiya' dengan kasrah pada huruf tsa yang bermakna berbuat kerusakan].